Sinar Cermin Dalam Mata

Rabu, Juli 28, 2010

Ketika aku tertawa berusaha bahagia
Ketika senyum ini lebar dan manis
Namun ada satu hal yang tak bisa ku tutupi
Sinar bola mataku yang tak bercahaya

Banyak yang bilang mata itu cerminan kita
Ya... benar dan tak bisa ku tutupi
Semanis apapun tawa dan senyum ini
Semakin redup pula cahaya mata ini

Oh Tuhan...lagi-lagi keluhku padaMu
Namun kapan cahaya ini kembali
Yang telah bertahun-tahun tak bersinar
 Hanya gelap, sakit, dan sedih isinya

Apakah aku tak layak mendapatkan kebahagiaan utuh
Apakah aku tak mampu meraih yang satu ini
Apakah sebuah karma yang ku dapat
Atau ini justru hidup berujung kebahagiaan

Akulah Sahabat Terbaik

Sahabat... Itulah yang ku miliki 
Sahabat... Itulah yang ku pertahankan
Sahabat... Itulah yang mungkin abadi
Yang akan mengunjungiku kelak bila mati

Sahabat tak perlu diucap...
Ketulusan sahabat cukup dirasa
Akulah sahabat terbaik untukmu
Kar'na ku tak pernah meninggalkanmu

Sebesar apapun beban yang kau pikul
Aku ingin membantu meringankannya
Akulah sahabat terbaik....
Yang kadang mengenalmu jauh lebih baik dari dirimu

Kadang kau caci maki, kadang kau lupakan
Namun aku di sini sayang...
Tetap setia membuka tanganku untukmu
Siap memelukmu kala semua meninggalkanmu

Aku tak pandai menghitung jasaku padamu
Aku tak pintar mencari kesalahanmu
Tapi aku cerdas memilih cara mendekapmu
Kar'na aku tulus sahabat....

Lapuk Menanti Sirna

Yang aku tau akan cinta...
Pahit, sakit, sedih kadang manis sejenak
Aku tak bersahabat baik dengan cinta
Namun sakit dan tangis adalah sahabatku

Ya... aku sangat mengenal baik apa itu sakit
Dan aku tau kenapa air mata slalu bersama sakit
Ibarat kayu lapuk... ku tinggal menanti sentuhan
Sentuhan yang bisa mensirnakan ku

Namun sayangnya untuk sirna pun sulit
Aku bagai tergantung di situasi yang salah
Di antara hidup ini banyak pilihan
Tapi adakah pilihan yang baik untuk ku pilih

Sampai kapan ini berakhir dan sirna
Sampai kapan aku menemukan jawaban atas semua
Sampai kapan lapuk ku tersentuh dan sirna
Penantian tak berujung bertanda akhir

Cinta Nista

Ketika hati ini mulai tak terkendali
Di dalam kesepian nan kosong
Tak hanya hampa tapi juga pilu
Tak hanya pertanyaan tapi juga tangis

Ketika aku merasa kebutuhan akan cinta
Seketika itu pula pikiran ini kembali
Apakah masih ada ketulusan....
Di sebuah cinta yang salah

Tangis sudah biasa muncul sebagai hiasan
Dan air mata hanya bumbu kesedihan ini
Ya Tuhan... berkali-kali ku berdoa
Bertanya dan menelaah tentang hidup nista ini

Berharap menemukan jawaban dan kuncinya
Namun mengapa hanya air mata yang keluar
Tak adakah manis abadi dari cinta nista ini
Dan mengapa akupun tak bisa menghindar